Saturday, September 20, 2014

Musibah Merubah Kehidupan

Kadang-kala manusia memandang ciptaan Tuhan itu ada baik dan buruknya. Persoalannya, begitukah hakikatnya ciptaan Tuhan yang Maha Hebat lagi Bijaksana?

INNAL INSAANA KHULIWA HALU'A, IZA MASSAHUL KHAIRU MANU'A, WA IZA MASSAHUL SYARRU JAZUU'A

Sesungguhnya manusia, diciptakan bersifat keluh-kesah, apabila ditimpa kebaikan, dia (mula) mendabik dada (sombong), dan apabila ditimpa keburukan (hidupnya mula) resah gelisah, melainkan orang-orang yang solat.(tidak akan terjadi hal yang demikian)
Mahfum Surah Al-Maarij : 19

Ada antara manusia, kebaikan yang dia terima diterjemah sebagai kebaikan Tuhan padanya, kasih-sayang Tuhan padanya, sebab dia orang dan keturunannya orang baik-baik, sebaliknya apabila ia menerima musibah itu adalah keburukan baginya. Begitukah Tuhan dalam mentakdirkan sesuatu kepadanya, ada baik dan buruk? Ketika ini buruk di anggap musibah.

Berapa Ramai

Padahal, berapa manusia yang berubah hidupnya gara-gara hadiah Tuhan berupa musibah? Anda tahu? Berapa ramai manusia yang menjawat jawatan besar dalam dunia ini ada yang garang, bengis, zalim, keras kepala, dia saja yang betul dan benar, berubah menjadi baik, lembut tingkah laku, tutur kata dan hatinya gara-gara dia terkena musibah sakit yang dahsyat selama beberapa waktu? Disaat dia sakit, orang bawahannya, datang menziarahinya,membawa doa dan penawar, luluh hati yang keras selama ini.

Disini penulis ingin mengajak anda berfikir, apakah musibah disaat ini dianggap betul-betul musibah dengan kata lain disebabkan kebencian tuhan padanya atau kasih sayang Allah Taala supaya dia berubah?

Cara Manusia Berubah

Manusia pula berubah dengan pelbagai cara, ada disebabkan usianya semakin lanjut, maka ia berfikir, sampai bila aku harus begini? Lalu dia buat perubahan. Mulalah menukar gaya berpakaian, kalau dulu seksi sana sini, kini tidak lagi.

Ada pula manusia diuji dengan kehilangan anaknya yang teramat dia sayangi. Selama ini dia jauh dari rumah Allah dan keras hubungannya dengan jiran tetangga, namun berubah total setelah anaknya pergi buat selamanya. Dia mula menjejak kaki ke masjid, wajahnya mula kelihatan ditempat-tempat kuliah agama. Subhanallah

Ada pula manusia yang diberiNya kesakitan yang berpanjangan. Habis segala ikhtiar dan ubat diusahakannya. Namun sembuh tak juga kunjung. Lalu khirnya ia pasrah, mula mengharap simpati Tuhan padanya, dia mula mencari amalan-amalan, doa-doa dan zikir yang mungkin boleh ia amalkan sebelum sisa-sisa hidupnya semakin menguncup.

Kalau dulunya dia seorang yang sombong, kini merendah diri dan selalu menunaikan perintah Solat di awal waktu.

Nah..musibah ini telah menjadi satu nikmat, bahkan rahmat dan satu tali penghubung antara makhluk dan khalik. 

Wa nunazzilu minal Qur'ani maa huwa syifaa wa rahmatun lilmukminin.

Artinya: Dan Kami turunkan dari isi kandungan Al-Qur'an itu, obat dan rahmat bagi orang mukmin.

Teringat penulis pada ungkapan seorang OKU di kaki gunung Indonesia, ketika seorang wartawan hadir untuk melihatnya bertanya, apakah anda tidak merasa kesusahan dengan kecatatan seperti ini, OKU itu ditakdirkan tidak punya tangan dan terpaksa menulis dan melukis menggunakan kaki.Subhanallah. Apa jawabnya? Sesungguhnya tidak ada cacat celanya pada ciptaan Allah Taala itu, kalau ternyata hadirnya cacat, itu adalah salahnya (pandangan) manusia itu sendiri.

Nah, disini..persepsi itulah yang membahagikan ini nikmat, itu bencana. Sementara Al-Qur'an mengatakan ia adalah rahmat. Kerana orang sakit ditarik keceriaan wajahnya, kesihatan dirinya dan dosa-dosanya, 

Sabda Nabi Muhammad SAW, "Sungguh hebat orang mukmin, apabila ditimpa bencana, dia bersabar, apabila diberi nikmat, dia bersyukur" Mudah-mudahan kita boleh menerima takdir Tuhan ke atas diri kita ya. Orang yang sabar dan redha dengan takdir Tuhan ini, bakal mendapat title Agung dari Tuhan, "Radhiallahu anhum...wa radhuu anhu...dzalika liman khasiya rabbah" Redha Allah Taala kepada mereka, dan mereka pun redha pada Allah Taala (atas takdir selama hidupnya) itu lah balasan bagi orang-orang yang takutkan tuhanNya,

Wallahu A'lam. 
 

No comments:

Post a Comment